Minggu, 03 Maret 2013

CONTOH CERPEN

   Berbagai Contoh cerpen

Iman Versus Superman
Oleh Uswatun

Sore itu, anak-anak di Kampung Damai bekumpul di lapangan bulutangkis.
Di lapangan yang cukup luas tersebut, anak-anak asyik bermain.
Ada yang bermain kejar-kejaran. Ada yang berputar-putar mengendarai
sepeda mini. Sejumlah anak duduk melingkar bemain monopoli. Sejumlah anak
lagi sibuk bermain kelereng.
Di antara kumpulan anak yang bermain monopoli terdapat Iman. Bocah
berusia sekitar tujuh tahun tersebut asyik bermain monopoli bersama empat
teman sebayanya, yakni Ryan, Toyib, Inug, dan Yayat.
Permainan monopoli mereka sangat seru. Ryan, yang merupakan anak paling
besar, menjadi pemenang. Ia berhasil mengumpulkan banyak uang dan memiliki
sejumlah bangunan hotel di beberapa kompleks persil.
"Aku selalu menang. Tidak ada yang bisa mengalahkanku. Kalian tidak
bisa menang," kata Ryan dengan suara agak keras.
Wajah Ryan sangat ceria. Bibirnya dipenuhi senyum. Ia bangga mampu
menang dalam permainan monopoli atas teman-temannya.
Namun, kemenangan tersebut membuat Ryan menjadi sombong. Ia
melontarkan ejek kepada teman-temannya tersebut. Ejekan yang ia lontarkan
paling sering ditujukan kepada Iman.
Ini karena Iman adalah anak yang sering kalah dalam permainan
tersebut. Iman tidak memiliki banyak uang. Sebaliknya, ia mempunyai
banyak utang.
Iman juga tidak mempunyai rumah apalagi hotel. Ia hanya memiliki
sejumlah kartu kepemilikan kompleks persil yang sudah dihipotekkan ke bank.
Terlebih, dalam putaran kocokan terakhir, tokoh yang dimainkan Iman
masuk ke dalam penjara. Ia pun harus rela dilewati teman-teman mainnya
beberapa putaran karena tidak memiliki uang untuk membayar biaya keluar
dari penjara.
"Sudah tidak punya uang, masuk penjara lagi. Kacian deh lo," teriak Ryan.
Iman pun bersungut-sungut. Mukanya kecut.
Iman merasa sakit hati terus diejek oleh teman-temannya. Ia sangat dongkol.
Namun, ketika perasaan dongkol menderanya, Ryan memberi tahu trik atau
rahasia kepada Iman agar bisa menang dalam permainan monopoli. Bahkan,
trik menang itu bisa diterapkan dalam segala permainan.
"Mau, kalau aku beri tahu rahasianya biar selalu menang," kata Ryan.
Iman bersemangat. Ia ingin sekali mendengar penjelasan dari Ryan soal
trik selalu menang dalam setiap permainan.
Ryan mendekati ke arah Iman. Toyib, Inug, dan Yayat ikut mengejek. Toyib,
Inug, dan Yayat pun merapat. Mereka serius menanti penjelasan Ryan.
"Rahasianya sangat mudah. Kalau ingin menang, kalian harus pakai kaos
bergambar Superman. Dijamin kalian akan selalu menang," jelas Ryan.
Ryan lantas menjelaskan panjang lebar mengenai Superman.
Menurutnya, Superman adalah manusia super atau pahlawan. Sebagai
manusia super, tidak ada yang bisa mengalahkannya.
"Superman itu selalu menang. Buktinya sekarang, aku pakai kaos
gambar Superman, aku kan yang menang. Akulah Superman," tandas Ryan
sambil membusungkan dada.
Beberapa hari kemudian, Iman minta dibelikan baju gambar Superman
kepada ibu.
"Kalu pakai baju gambar Superman, Iman bisa menjadi anak super.
Tidak selalu kalah saat bermain monopoli dengan teman-teman," kata Iman
kepada ibu.
Merasa risih dengan rengekan Iman, ibu akhirnya menyanggupi untuk
membelikan kaos bergambar Superman.
Akhirnya Iman memperoleh kaos bergambar Superman. Ia pun menyampaikan
terima kasih kepada ibu yang telah membelikan.
Sorenya, setelah mandi, Iman mengenakan kaos bergambar Superman. Ia
bergegas menuju lapangan untuk menemui teman-temannya. Kebetulah Ryan,
Toyib, Inug, dan Yayat sudah berada di sana.
Mereka sedang bermain monopoli, begitu melihat kehadiran Iman, Ryan
segera mengajaknya bermain untuk menggantikan Yayat. Iman pun mengiyakan.
Namun, setelah beberapa kali putaran, Iman tidak berhasil membeli
kompleks persil. Padahal, Ryan, Toyib, dan Inug sudah berhasil membeli
sejumlah kompleks persil.
Beberapa putaran kemudian, Iman makin terjepit. Ketika lawan-lawan
mainnya makin banyak memiliki kompleks persil dan rumah maupun hotel,
Iman tidak mampu mengumpulkan kekayaan. Bahkan, di saat uang lawanlawannya
menumpuk, uang milik Iman menipis.
Iman menghela napas panjang. Ia kalah.
"Sudah pakai kaos Supermen, kok, tetap kalah ya," gumam Iman.
Iman pun kembali diejek teman-temannya. Terus diejek. Iman akhirnya
menangis.
Ketika pulang, Iman mengadukan kejadian yang baru saja dialaminya
kepada ibu. "Bu, kata Ryan kalu pakai kaos Superman bisa selalu menang saat
bermain. Ternyata, kok, tidak. Iman tetap kalah. Ryan bohong. Karena
kalah, Iman pun diejek," kata Iman.
Ibu tidak segera menyahut, ibu hanya menjawab dengan senyuman.
Tak lama kemudian ibu berujar, "Iman, bermain itu tidak ada kaitannya
dengan kaos yang dipakai. Pantas Iman selalu kalah karena kamu kan anak
yang paling kecil di antara teman-temanmu itu."
Mendengar jawaban ibu, Iman mulai menyadari sebab ia kalah. "Iya,
Iman memang yang paling kecil," katanya dalam hati.
Sebelum Iman beranjak menuju kamarnya, ibu memberikan nasihat.
"Iman, kalah atau menang itu biasa. Apalagi menang atau kalah dalam
sebuah permainan. Hanya, pesan ibu, kalau kamu menang jangan lantas mengejek
teman-temanmu yang kalah. Sebab, suatu saat Iman juga bisa kalah kan," jelasnya.
"Suatu hari, Iman pasti bisa menang saat bermain dengan teman-temanmu.
Yang penting, jangan sombong kalau menang," ungkap ibu sambil menyentuh
ujung hidung Iman.
Iman pun tersenyum. Ia berjanji akan melaksanakan nasihat ibu. Ia berjanji
tidak akan mengejek teman-teman sepermainannya ketika ia menang saat
bermain.

Related Articles:

Posting Komentar